Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Tuesday, August 14, 2007

Children of men : jaga bayimu


[oleh hery subyanto]

Apa yang harus kita lakukan ketika dunia yang kita tinggali penuh dengan kerusakan akibat perang, polusi, bencana dan manusia semakin terkotak-kotak? Dunia ketika para wanita sudah tidak bisa menghasilkan keturunan. Jawabannya adalah "JAGALAH BAYIMU!"


Jawaban ini yang aku tangkap dari film Children of Men yang disutradarai Alfonso Cauron. Sutradara ini sebelumnya menghasilkan Y Tu Mama Tambien dan Harry Potter 4. Seperti kedua film tersebut, Children of Men dipenuhi dengan gambar-gambar yang suram. Inggris di tahun 2027 digambarkan dengan suasana kelabu, penuh kekacauan, jumlah imigran yang semakin merepotkan dan para wanita di dunia digambarkan mandul oleh sesuatu yang belum diketahui.

Film ini mencoba membuka mata kita akan pentingnya generasi penerus dengan cara yang menurutku cukup ekstrem. Generasi yang dimaksud disini adalah generasi tanpa dilihat dari mana dia berasal. Tapi dilihat sebagai MANUSIA, yang keberadaannya wajib dan harus diselamatkan. Secara tidak langsung film ini seakan mengingatkan pembantaian dalam bentuk apapun adalah tindakan yang tidak bisa dimaafkan.

Kisahnya sendiri fokus pada upaya Clive Owen untuk menyelamatkan seorang wanita kulit hitam yang diketahui bisa hamil. Dalam perjalanan tersebut kita disuguhi dengan beberapa adegan yang cukup menghentak. Alfonso Cauron begitu piawai menjaga ritme film yang diangkat dari novel PD James ini. Tidak heran film ini masuk nominasi Oscar 2007 untuk Best Adapted Screenplay.

Film ini sangat kuat dari segi visualnya. Adegan - adegan diambil cukup lama tanpa membosankan. Ada satu scene yang membuatku kagum, yakni adegan pertempuran di akhir film. Adegan tersebut diambil tanpa cut sama sekali. Padahal durasinya sangat lama. Kamera secara intens merekam kemanapun Clive Owen bergerak dalam space yang cukup rumit dan lebar. Aku membayangkan sebelum diambil dan direkam, mereka latihan terlebih dahulu. Kereeen!!!

Oscar saja memasukkan editing dan sinematografi film ini ke dalam nominasinya.
Berbeda dengan film yang menggambarkan masa depan, film ini termasuk yang realistis dalam penggambarannya. Eropa yang semakin dipenuhi imigran sangat mungkin terjadi, kaum Arab yang semakin terpinggirkan, gerakan perlawanan yang muncul dimana-mana menurutku sangat mungkin terjadi 20 tahun mendatang.

Film ini semakin asyik dengan penampilan total dari Clive Owen. Karakternya asyik banget. Tidak hitam putih. Sebuah film yang wajib tonton. 3,5/5
Note: Apapun yang mereka lakukan, apapun yang mereka katakan .... JAGALAH BAYIMU!

Hantu Bourne


[oleh hery subyanto]

Kalau ditanya film ( Hollywood ) apa yang paling asyik dilihat di tahun 2007 ini? Jawabannya dengan pasti adalah The Bourne Ultimatum!
Film ini menawarkan aksi secara mempesona dan simultan. Ceritanya sentiri tidak beranjak dari dua film sebelumnya, kita diajak menyaksikan aksi kejar-kejaran antara CIA dengan Bourne. Sisi menarik dari trilogi Bourne menurutku memang bagaimana usaha dia dalam meloloskan diri dari pihak-pihak yang berusaha mengejarnya. Film adu pintar semacam ini memang selalu menarik dilihat seperti dalam Face/Off, Inside Man, Seven ataupun The Negotiator.


Bourne ini seolah-olah hantu yang membuat CIA tidak tenang. Ironisnya hantu tersebut diciptakan oleh mereka sendiri. Dari yang aku saksikan aku membayangkan apakah hantu seperti Osama bin Laden ataupun tokoh-tokoh lain yang menjadi target pembunuhan pemerintah AS juga merupakan kreasi dari AS? Kalau ditarik ke belakang cerita jenis ini sebenarnya sudah ada sejak tokoh Frankenstein diciptakan.

Film ini juga menggambarkan bahwa senjata yang paling ampuh untuk menghancurkan musuh bukanlah pistol, rudal ataupun bom, tapi ide-ide, dogma ataupun doktrin yang merasuki pikiran. Sebuah kejahatan yang tidak bisa dibuktikan. Aku jadi teringat dengan Tirai karya Agatha Christie, dimana Hercule Poirot bunuh diri karena tidak bisa menangkap seorang penjahat yang menggunakan "lidahnya" sebagai alat membunuh, karena tidak bisa dibuktikan.

Kembali ke Bourne. Film ini dipenuhi adegan-adegan yang menguras nafas dan gelengan kepala. Terus terang melihat film ini aku banyak menahan nafas melihat Bourne yang hampir tertangkap berkali-kali meskipun dalam pikiran sudah tahu film akan berkahir dengan manis, semanis senyum Julia Stiles di akhir film.Takjub juga melihat betapa pintarnya Bourne mengakali lawan-lawannya. Terutama adegan ketika dia memasuki kantor ...... ( sensor ) dan kagum juga ternyata adegan di akhir seri kedua ditampilkan di tengah-tengah film.

Kisah Bourne tidak afdol tanpa adegan car crash yang dahsyat. Car Crash di seri ketiga ini benar-benar dahsyat. Kalau ada sutradara yang bisa menghasilkan adegan Car Crash yang lebih dahsyat, berarti sutradara tersebut memang benar - benar HEBAAAT.
Penggunaan hand held kamera semakin memperkuat cerita. Kita sekan-akan diajak "mengintip" segala polah tingkah tokoh yang ada di film ini. Menurutku jenis pengambilan seperti ini sangat sesuai dipakai dalam film-film bergenre spionase, karena erat kaitannya dengan pengamatan.

Film ini juga mengajak kita melintasi berbagi negara. Tangier itu negara apa bukan ya?Hehehe
Geografiku payah banget.
Film ini sangat menghibur, jadi segera tonton kalau ada waktu luang. 3,5/5

Sunday, August 12, 2007

Page 3


Dunia selebriti selalu asyik untuk diikuti. Sebuah dunia yang terlihat gemerlap. Tetapi apakah memang begitu kondisi sesungguhnya? Kalau kita melihat Page 3, maka kita akan dibuat percaya bahwa dunia selebriti memang dunia yang akrab dengan hal-hal yang ”menyilaukan”.
Page 3 adalah sebuah film buatan Bollywood, yang di tahun 2006 kemarin, selain masuk jajaran film terlaris juga mendapatkan banyak pujian. Mungkin kita sedikit meremehkan film India. Tapi Page 3 ini menurutku film India yang mempunyai keunikan tersendiri dibandingkan dengan film India yang lain, yang menawarkan drama yang berlebihan, serta diiringi musik dan goyang pinggul. Musik dan goyang tetap dihadirkan dalam film ini. Tapi sangat kontekstual. Musik dan tarinya sebenarnya sangat biasa, tapi lirik lagu-lagunya begitu menohok. Page 3 ini ditulis berdasar kisah nyata seorang wartawan. Hal inilah yang menyebabkan apa yang disajikan di layar menjadi tidak berlebihan seperti halnya film India yang lain. Film ini secara frontal dan jujur menggambarkan dunia selebriti yang penuh dengan kepalsuan dan kesombongan, dan gaya hidup drug, sex and party. Hampir di sepanjang film, segala ironi yang ada di dunia selebriti disajikan secara gamblang., sekaligus nyinyir. Yang dimaksud dengan Page 3 disini adalah kolom dimana didalamnya berisi berita – berita orang – orang kondang. Dengan kata lain Infotainment. Awal film berjalan agak lambat, tetapi setelah sepertiga durasi film ini menjadi lebih enak dinikmati. Film ini semakin istimewa karena para bintang pendukungnya, namanya masih sangat asing ditelinga. Ketidakterkenalan mereka justru semakin membuat film ini lebih membumi dan realistis. Dalam Page 3 juga digambarkan kehidupan seorang wartawan pemula dengan segala konfliknya, terutama pergulatan dalam dirinya. Tokoh utama digambarkan seorang yang masih muda, fresh graduate dengan idealisme tinggi. Pergulatan batin si tokoh utama makin tajam ketika pada suatu saat dia dihadapkan kepada pilihan yang mengusik nuraninya. Aku tidak tahu apakah kebanyakan temen-temen yang bekerja di media juga mengalami hal tersebut. Tapi menurutku, pergulatan batin seperti yang dialami oleh si tokoh utama dalam Page 3 juga dialami oleh kebanyakan dari kita. Buat temen-temen yang kerja di media, film ini bisa dicoba. Lumayan kok. 3/5 NB : setelah melihat Page 3, aku liat seri Entourage musim pertama. Serial ini juga menggambarkan dunia hiburan. Berbeda dari Page 3 yang melihatnya dari mata wartawan. Di Entourage, kita diajak menelusuri dunia hiburan lewat pelaku dunia hiburan. Film ini penuh dengan adegan – adegan dewasa ( seks, boob, butt, and breast). Kehidupan selebriti dalam Entourage digambarkan setali tiga kutang dengan yang digambarkan dalam Page 3, tapi dengan gambar-gambar yang lebih vulgar. Maklum Hollywood. Dialog-dialog dalam Entourage, seperti komedi produk AS lainnya, lucu dan cerdas. Asyiknya serial ini adalah hadirnya bintang Hollywood betulan sebagai bintang tamu seperti Mark Wahlberg (produsernya soalnya), Jessica Alba, Scarlett Johannson, Luke Wilson, dll.

Monday, August 6, 2007

BENAR-BENAR BIASA dengan kata lain BUKAN BARANG BARU (baca : BBB )


by hary subiyanto

Sejak dulu, kita sudah diajarkan untuk tidak berpengharapan terlalu tinggi karena pada akhirnya hanya akan menemui kekecewaan. Inilah yang terjadi setelah melihat Bukan Bintang Biasa The Movie.

Pada saat Melly berencana meluncurkan filmnya, dalam benak (penulis) muncul film remaja yang lain daripada yang yang lain. Yang tidak hanya menawarkan kisah yang dangkal dengan menyuguhi kisah cinta remaja dan segala hura-huranya.




Cerita yang tidak hanya menawarkan mimpi tapi juga menyuguhkan realita yang ada. Ternyata apa yang ditampilkan di layar adalah sesuatu yang BENAR-BENAR BIASA dengan kata lain BUKAN BARANG BARU (baca : BBB ).

Bukan Bintang Biasa hanyalah kisah seputar 5 orang remaja mahasiswa yang diributkan dengan masalah cinta(?). Padahal kalau film ini lebih focus pada pengembangan karakter (building character) kelima tokohnya, film ini akan lebih “berisi”. Saya tidak
menabukan kisah percintaan remaja.

Kebetulan sebelum melihat Bukan Bintang Biasa, saya melihat film-film dengan tema sejenis semacam Step Up, Honey, Take the Lead, High School Musical dan The Holiday. Untuk judul
yang terakhir adalah film produk Bollywood. Film-film yang saya sebutkan tadi sama-sama menggunakan seni sebagai sarana aktualisasi para tokohnya yang masih remaja, bahkan untuk High School Musical para tokohnya digambarkan masih SMP. Meskipun didalamnya tetap
dibumbui kisah percintaan, tapi bukanlah suguhan utama.

Berbeda dengan BBB yang tokoh-tokohnya out of reach, dalam film-film yang saya tonton tersebut, tokoh-tokohnya begitu membumi. Mereka digambarkan remaja biasa-biasa saja, kadang digambarkan sangat bermasalah, yang pada perkembangannya menjadi pribadi yang luar biasa dengan berhasil mengalahkan musuh terbesar mereka yakni diri mereka sendiri. From zero to hero. Hal ini tidak nampak pada BBB, sehingga sulit bagi penonton untuk larut dalam cerita yang disuguhkan. Tokoh-tokoh yang digambarkan dalam BBB, meskipun pada awal film diperkenalkan dengan segala kekurangan mereka, tapi bagi penonton, karakter mereka tetap “wah”. Hal ini ditunjang dengan segala gaya yang melekat pada mereka, seperti baju , mobil ataupun gadget yang mereka bawa.

Drama yang ditawarkan tidak begitu kuat. Mungkin cerita yang ditawarkan akan mendapat sedikit pemakluman apabila para tokohnya digambarkan masih SMP. Agak tersinggung juga, para tokohnya yang mahasiswa digambarkan seperti itu. Tidak ada semacam passion dalam para tokohnya ketika beraktualisasi dengan seni yang mereka pilih. Mungkin ini terpengaruh
dengan padatnya jadwal para pemeran film ini, sehingga pendalaman karakter mereka sangat kurang. Kurang disiplin dalam latihan.Atau mungkin salah kasting. Ending film semakin memperparah film. Kelima tokohnya menyanyi bersama di atas panggung dengan koreografi
yang amat sangat tanggung! Idealnya mereka bersinergi sesuai seni yang mereka dalami. Bukan malah bernyanyi bersama. Pentas seni harusnya dimanfaatkan oleh para tokohnya untuk unjuk gigi kemampuan yang mereka miliki. Puncak kehebohan harusnya terjadi pada akhir film.

Poin pisitif dari film ini adalah warna-warna cerah yang lumayan menyejukkan mata, Bella yang
dieksploitasi dari berbagai sudut ( nih anak bener-bener amat sangat segar sekali ) dan musik yang segar. Untuk musik, sayang sekali materi yang sebenarnya sudah asyik tidak dimanfaatkan secara maksimal. Ada beberapa adegan yang kurang pas dalam memasukkan musiknya. Motongnya tidak pas. Dari penampilan bintang pendukungnya, penampilan
Chintami Atmanegara lumayan segar dengan logat Sunda-nya yang genit. Paundra juga bisa tampil sebagai sosok yang invisible.

Kalau penonton film ini mencapai 1 juta, Melly berencana membuat sekuelnya. Saya berharap kalau hal tersebut bisa terwujud, Melly bisa membuatnya dengan lebih “bijaksana” dengan lebih berpihak pada perkembangan karakter yang lebih membumi. Tidak hanya menjual mimpi. Dan semoga saja harapan saya tidak hancur nantinya.

Bagi yang mempunyai duit dan waktu berlebih, boleh-boleh saja liat film ini. Terutama bagi yang pengin diet, karena film ini bisa menyiksa lemak kalian hingga mampu mencairkannya. Yang lagi puyeng, disarankan untuk tidak melihat film ini. 1,5/5

Monday, July 16, 2007

BBB

[by hery subyanto]

Mencoba jadi peramal nih. Aku meramalkan BBB akan jadifilm Indonesia paling heboh tahun ini.Beberapa halyang akan membuat film Bukan Bintang Biasa menjadifilm Indonesia tersukses tahun ini:

1. Soundtracknya asyik.Setelah denger seluruh lagu di album soundtracknya,aku membayangkan filmnya akan sesegar lagu-laginya.Lupakan soal vokal mereka.
2. Bintangnya keren.Aku menulis "keren" bukan "keren-keren" karena di situada Laudya Cintya Bella, istri mudaku! Nih anak seger banget. Hehehe...
3. Promosinya gila-gilaanUntuk ukuran film Indonesia, promosi film ini termasukheboh banget.Gak akan heran kalau dalam beberapa hari kedepan,banyak media cetak hiburan yang menjadikan BBB sebagaicovernya.
4. Ceritanya bedaAku bayangin film ini akan seperti Step Up, yangmenyoroti dunia remaja tetapi tidak semata fokuskepada kisah cinta mereka, tetapi juga bagaimanamereka mengisi masa muda mereka dengan sesuatu yangberguna.
5. Film-film heboh sudah berlaluPesaing dari Hollywood udah pada lengser satu persatu.Film Hollywood yang akan rilis sekitar tanggalperilisan BBB ada Bourne 3 ( kurang populer untukorang Indonesia), Rush Hour 3 (aku sanksi ma film ini) dan (yang paling aku tunggu ) Simpson.

Di balik "keunggulan" tadi ada beberapa hal yangmungkin akan menghambat BBB:
1. Ada Chelsea, Raffi dan Dimas
2. Thriller nya yang sangat tidak menjual.
3. Capek dengan film remaja Indonesia.

Yang pasti kita yang di Solo PASTI liat film ini untukmenghormati teman kita yang mengidentikkan dirinyadengan Chelsea Olivia, yakni Rizka ArinindyaMARI

KITA NONTON BUKAN BINTANG BIASA!Karena?Ya karena BINTANG-nya BUKAN BINTANG BIASA

Thursday, June 28, 2007

maaf saya menghamili istri Anda

by wayan diananto

Ada kalanya kita menonton film lantaran kita terpikat pada judul. Nah, saya pun langsung terpikat pada film karya Monti Tiwa, maaf saya menghamili istri Anda. Judulnya yang terdengar “bangsat” langsung membuat saya yang juga…..ini bersegera mengagendakan film tersebut. Apakah filmnya juga “setengil” judulnya?

Jujur, openingnya saja sudah sangat mengecewakan. Gambar dengan kamera yang sangat televise. Dengan pewarnaan yang ala kadarnya membuat saya jadi setengah hati. Belum lagi opening ini sama dengan Pocong, tentu
dengan “greget” yang lebih menggetarkan Pocong.

Opening ini mungkin dimaksudnkan untuk menggelitik perut penonton tapi entahlah, saya juga tertawa sesekali meski ngilu juga dengan kualitas gambar yang jatuh. Maka dimulailah perjalanan seorang figuran sok improve yang senantiasa tak punya uang bernama Dibyo (Ringgo).
Dengan status keuangan “kemplang sana kemplang sini” tentu dia tak punya pacara dan mendapat preseden buruk dari orang sekitar.

Celakanya, ia dengan sok perlente menghadiri pesta ultah teman yang berujung pada acara bobok bersama Sang pemilik pesta. Kebetulan, Sang pemilik pesta yang bernama Mira dibawakan oleh Mulan Kwok. Belakangan baru diketahui bahwa Mira masih pisah ranjang dengan suaminya yang adalah preman. Dengan status mahajobless ini, Ringgo akhirnya mendapat
pekerjaan baru, yakni meyakinkan Sang Preman, bahwa istrinya aman ditangan Dibyo.

Saya tidak akan mendetailkan isi cerita, karena kemarin saya dituduh tukang spoiler sama teman saya setiap mereview di milis. Dari segi kasting, kok ya berkutat orangnya itu – itu saja! Si Preman diperankan
oleh bapak kos dalam Mengejar Mas2, dan juga pernah main di Pocong. Dan masih banyak lagi artis ala sinemart berkeliaran di film ini. Kenapa juga harus Mulan? Atau mungkin lebih tepatnya, kalau toh tetep keukeuh Mulan, kenapa juga tidak digembleng agar aktingnya lebih natural dan ‘pas.’ Sementara Shanty makin berkilau semenjak berbagi suami dengan Rieke Diah dan Ria Irawan. Ringgo sebenarnya pilihan yang pas, tapi tetap saja hal yang sebenarnya lebih bias digali dari pada sekadar Dibyo yang sekarang.

Saya paling terganggu dengan kualitas gambar. Sangat FTV namun scenario semacam ini memang riskan jika dipajang di layer beling. Tentunya, jika nekat dipajang dilayar beling akan banyak scene yang dikepras! Mungkin, karena Monty Tiwa sejatinya bukan sutradara dan mencoba mengembangkan bakat (untuk menggantikan kata ‘nekat’) menjadi sutradara, maka begitulah gambar – gambar yang muncul. Untuk sebuah mahakarya, tentu film ini jauh dari harapan. Sesal saya untuk film ini lebih kepada isi scenario yang seolah hanya mengajak kita untuk tertawa tanpa harus menemukan pesan dibalik tawa.

Sampai film ini berakhir saya masih bingung maksud dari film ini apa?
Ataukah saya yang geblek dengan IQ saya jongkok, ndeprok, ndlosor lan sak piturute? Sama – sama scenario karya Monty, saya merasa masih mending Mengejar Mas2, penuh kelakar, romantisme kasta bawah, namun sarat pesan moral. Barangkali Monty terlalu sibuk merumuskan kata – kata pemicu tawa, dan terlampau keras belajar jadi sutradara sampai lupa esensi film yang utama adalah menyampaikan satu pesan terhadap penontonnya. Atau barangkali ya itu tadi malah saya yang bloon karena gak nangkep maksudnya Monty? Entahlah…yang jelas saya selalu ingat kata Rudi Sudjarwo bahwa membuat film itu yang penting setelah penonton melihat film kita dan keluar dari bioskop, mereka “mendapatkan sesuatu” dari yang ditonton.

Thursday, June 14, 2007

3 hari untuk selamanya Wacana baru film dewasa



[by aprilia palupi]
*catatan, reviewnya diambil sebagian.

Pemilihan karakter may (sapa sih nama lengkapnya?) & Yusuf nya sih cucok ma A.wirasti & n.saputra, tapi ketuaan ga sih?
Film dengan sponsor suatu brand rokok ternama plus label 18+ yang sangat mengundang perhatian. Fyuh, capek nontonnya… ga Indonesia banget.

Yang paling ngeselin, aku sebel, (sutradara) riri riza apa ga pake survey yah, kalo diamati pas di perjalanan sampe ke magelang (liat deh water tower di alun2 magelang itu) harusnya dia dah kearah yogya (dia lewat pecinan, nglewatin eropah tailor, dsb, jelas aku pahami itu!!) itu kan dah 50 menit lagi sebelum sampe yogya.

Kok bisa2nya mampir ke sendangsono yang sama aja muter lagi trus tiba2 dah malem pake nginep di malem lagi, uh…, ga logis. Males banget aku ngeliatnya. Kesimpulanku, sutradara ne ga baca peta L. Unit manager nya juga kurang survey ato editor e yang asal ngepasin gambar en lagu, without any simple attention to these simple things.

Tapi di samping itu smua, aku suka adegan may berdialog sama patung bunda maria, natural bgt, tapi wa mesti paham, ini Indonesia ga smua orang mau memahami lintas budaya palagi lintas agama, hehehe susyahhh....

Jujur aku lebih suka karakter Nicholas dalam janji joni (ditayangkan lagi nih di RCTI beberapa hari yang lalu, en aku tetep enjoy this!). aku pokoknya Cuma brani ngasih 2 ½ popcorn untuk film ini en yang 2 ½ kusimpen sendiri, hehehe buat nonton film malem jumat kliwon, hehehe, bisa ajah…..

Saturday, May 19, 2007

300 Untuk Mata Anda

Lebih dari 300
[by ; hery subyanto]

Kalau ingin memanjakan indera kamu ( khususnya mata ) maka 300 sangat layak tonton. Melihat film ini seperti membuka lembar demi lembar buku komik dengan pewarnaan yang memikat. Hal ini dapat dimaklumi mengingat film ini diangkat dari komik karya Frank Miller yang juga menghasilkan Sin City. Bagi yang sudah melihat Sin City mungkin apa yang ditampilkan di layar sudah tidak begitu mengagetkan. Tapi tetap saja kita dibuat terpukau dengan tampilan visual yang ada.

300
Directed :Zack Snyder Starring :Gerard Butler Lena Headey David Wenham Dominic West Rodrigo Santoro Andrew Tiernan Distributed : Warner Bros Release 2007 Running time 117 min. Budget : $60 million
FUN TRIVIA : There are 1,523 cuts in the film, with 1,006 visual effects shots

Intinya film ini bercerita mengenai persatuan dan kesatuan, dimana hal ini erat kaitannya dengan dengan pengorganisasian yang baik untuk mencapai sasaran yakni kebebasan. Dan memang kebebasan itu tidaklah murah. Ada harga yang harus dibayar bila kita menginginkannya. Bisa berupa uang, nyawa, bahkan kehormatan sekalipun ( bagi yang punya ). Kembali ke masalah sensasi visual. Film ini penuh dengan tetesan darah ( tanpa air mata ), kostum super mini ( konsep aurat belum masuk tuh ), penggambaran setting yang memikat dan pewarnaan yang stylish. Dan tidak bisa dilewatkan juga para pemainnya yang seolah - olah blockingnya sudah diatur sedemikian rupa layaknya orang berpose. ( Beda dengan Will Smith yang dalam Pursuit of Happiness dilarang untuk "berpose" oleh sutradaranya) . Dalam adegan tarung sekalipun terlihat gerakan - gerakan pemerannya diatur sedemikian rupa layaknya sebuah tari. Film yang awalnya enak ini, agak ketengah menjadi agak menggelikan. Hal menggelikan ini dimulai dengan munculnya para Ephor yang digambarkan tokoh suci yang bercinta dengan sesama jenisnya ( dan lihatlah apa yang terjadi pada fisik mereka ). Pemunculan Xerxes dengan eye liner, lipstick dan tindikan yang gemerlap semakin menambah kegelian penonton. Untuk tokoh sekejam itu, dandanan yang disematkan agak berlebihan dan kesan "cantik" tidak bisa dihindarkan, meskipun secara fisik memang cukup mengerikan ( ngeri membayangkan disentuh oleh orang itu ). Film semakin mengelikan dengan pemunculan badak, gajah dan pasukan Persia dengan wajah dan atribut yang aneh ( menurutku ) serta si pengkhianat Ephialtes. Keberadaan mereka menjadikan film ini absurb, terutama soal setting waktu. Apakah di era 480 SM atau era middle earth seperti halnya LOTR. Jenggot Leonidas terlihat lucu bila disyut dari samping. Kaku banget seperti jeghul kering yang sengaja ditempelkan. Kalau kamu perhatikan gara-gara jenggot ini juga tidak ada adegan ciuman ataupun cumbuan di sex scene. Bakalan lucu kalo ditampilkan. Dan setuju ma Irwan, lucu juga mo perang sempat-sempatnya nyebutin angka-angka, seolah-olah si komandan barusan dapat mata kuliah statistic. Tapi bukankah berbagai kejadian di dunia ini ujung-ujungnya hanya ditampilkan dengan angka-angka? Perang Irak menimbulkan berapa korban tentara Sekutu? Berapa korban dari kaum Sunni? Dari kaum Syiah? Berapa jumlah korban kecelakaan pesawat? Berapa berat badanmu? Dst....... Secara umum film ini bisa dikategorikan film politik. Di dalamnya penuh dengan intrik, skandal, doktrin/jargon, parlemen, perundingan, perang, keterlibatan pemuka agama/kepercayaan dalam keputusan politik, dan lain-lain. Komplit! Dari film ini bisa kita cermati beberapa hal : 1. Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, maka dari itu penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi ini. 2. Prajurit adalah profesi yang terhormat dan hanya yang benar-benar terpilih yang bisa menyandang gelar prajurit yang sesungguhnya. 3. Kemerdekaan, kebebasan dan kehormatan lebih berharga daripada materi. 4. Film ini bisa dijadikan untuk bahan memompa semangat para pejuang ( semoga prajurit AS di Irak tidak menonton film ini, ataupun para pemberontak ). 5. Sejarah bisa dibengkokkan tergantung siapa yang menang dan siapa yang menuliskannya. Kita bisa kok menulis sejarah menurut versi kita. 6. Adegan dimana Sri Ratu beragumen di depan Dewan mengingatkanku akan kondisi AS sekarang, dimana pemerintahannya ( halo BUSH - uk! ) selalu berusaha untuk meng-gol kan kebijakan militernya. 7. Kualitas lebih penting daripada kuantitas, Tapi kalo bisa dua-duanya oke. Film ini makin menarik berkat pemilihan pemain yang tepat. Yang paling menonjol tentu saja si Gerrard Butler yang sangat meyakinkan sebagai Leonidas. Sosok seorang raja ada pada dirinya. Lena Headey menarik dengan aksen dan kostumnya yang tinggal geser sedikit.... telanjang deh. Tancaaaap!!! 3/5 Patut dinantikan!! ! Melihat film ini segera terbersit di pikiranku 300xxx mengingat kostum para pemerannya yang sudah mengundang. Dalam bayanganku di 300xxx akan banyak terjadi gank bang gitu deh Hehehe...... .... Adegan pas ritual Ephor ( bukan para Ephor nya tapi para gadisnya) Adegan raja dan ratu. Para prajurit yang akan meninggalkan para pasangannya. Ratu dan anggota senat yang licik. Argumen Ratu di depan dewan akan menarik kalau ratu membawa para dayang. Orgy party raja Xerxes. Ada yang mo nambah ide?

Sinar Besar dari Little Sunhine

Little yang menjadi BESAR
[by ; hery subyanto]


Little Miss Sunshine menurutku jenis film yang "menceriakan" .
Pada awalnya memang kita dihadapkan pada sekumpulan keluarga aneh yang tidak connect antara anggota yang satu dengan yang lain.
Masing-masing dari mereka asyik dengan dunianya sendiri.
Yang terlihat benar-benar hidup di keluarga itu hanya si anak kecil dan si kakek. Dan menurutku, penulis berpikiran bahwa anak-anak jauh lebih spontan dibandingkan dengan orang-orang dewasa yang terikat dengan berbagai macam etika dan aturan. Lebih spontan yang pada akhirnya terlihat lebih hidup. Bagaimana dengan si kakek? Ada anggapan di masyarakat ketika seseorang itu bertambah tua usianya, maka dia cenderung berperilaku layaknya anak kecil. Mungkin itu yang ada di benak penulis cerita.

Directed :Jonathan Dayton and Valerie Faris
Produced :Michael Beugg (executive)
Written :Michael Arndt
Starring :Greg Kinnear Toni Collette Steve Carell Abigail Breslin Alan Arkin Paul Dano
Fox Searchlight Pictures Release : July 26, 2006
Running time : 103 min.


Tokoh anak yang mengunci mulutnya mewakili dunia remaja yang bingung dengan berbagai macam ide-ide/pemikiran- pemikiran yang kadang bertentangan dengan realita, yang pada akhirnya menimbulkan kekecewaan dan munculah aksi protes.
Tokoh ibu digambarkan sosok yang tegar sekaligus lelah karena harus berperan sebagai jembatan antara anggota keluarga yang satu dengan yang lain. Sebuah gambaran yang realistis, yang bisa kita temui di keluarga kita sendiri.
Tokoh ayah digambarkan sebagai sosok yang berusaha mencari "tempatnya". Eksistensi. Yang terjadi adalah dia menjadi seorang pecundang, yang hanya hidup di dunia ide. Berusaha memperbaiki dunia tetapi tidak bisa melihat bahwa dalam dirinya sendiri ada sesuatu yang perlu diperbaiki. ( Aku bangeeet...)
Tokoh Paman adalah sosok yang belum bisa menerima dan memaafkan dirinya sendiri.
Pada akhirnya semua karakter tadi ditempatkan dalam sebuah mobil. Dan film menjadi menarik karena mau tidak mau mereka diharuskan berinteraksi satu sama lain. Bahwa dalam hidup ini mereka tidak bisa dilepaskan dari peran orang lain. Saling bahu membahu.
Mobil disini bisa diartikan sebagai sebuah sarana dalam sebuah perjalanan untuk mencapai suatu tujuan. Sebuah perjalanan yang tidak selalu lancar dengan sarana yang bisa dibilang pas-pasan. Dan hal tersebut bisa menjadi sebuah masalah atau tidak masalah sama sekali tergantung bagaimana mereka menyikapi dan mengatasinya.
Di sinilah karakter para tokoh mulai berkembang. Pada dasarnya mereka harus berdamai dengan diri mereka sendiri dan mencoba untuk lebih spontan (jujur). Untuk selanjutnya bisa "keluar".
Hal ini sebenarnya lazim ditemui dalam film jenis ROAD MOVIE.
Dan jangan lewatkan ending film ini yang membuatku tertawa terbahak-bahak. Sungguh menyegarkan.
Yang liat DVD nya ada 3 alternatif yang ditawarkan. Dan menurutku ending yang ditampilkan di filmnya yang paling dan sangat "nendang".
Kekuatan film ini selain pada skripnya adalah jalinan kimia yang terjadi antar para pemainnya. Melihat mereka seperti melihat sebuah keluarga betulan. Bermain lepas,spontan dan bersinergi.
Meski menurutku agak kurang pas ketika Alan Arkin kemaren menang di Oscar, karena menurutku bobot peran yang dia bawakan kurang begitu berat bila dibandingkan dengan peran yang dibawakan oleh Djimon Hounsou.
Begitu juga dengan skripnya. Aku belum liat Babel tapi dari yang aku baca, tema Babel lebih aktual dengan kondisi saat ini.
Tapi bagaimanapun film ini wajib tonton. 4/5


KALA, Noir dan Mistis

KALA Fim Noir dengan aroma mistis
[by ; hery subyanto]

Sambutlah film dengan genre baru. Fim Noir dengan aroma mistis. Dan ini hanya ada di Indonesia. KALA judulnya.

Seperti halnya film noir produk Hollywood, KALA menampilkan gambar-gambar yang memikat mata. Pencahayaan yang kelam, permainan bayangan, setting tahun 40/50-an dan kepulan asap rokok dari bibir para tokohnya. Ditambah dengan alunan musik jazz dan kostum yang didominasi warna-warna netral (tanah).Dan jangan dilewatkan unsur kekerasan dan seks yang kental hadir di film noir.

Jenis Film : THRILLER

Pemain : FACHRI ALBAR, SHANTY, FAHRANI, ARYO BAYU
Sutradara : JOKO ANWAR
Penulis : JOKO ANWAR
Poduser : MANOJ PUNJABI
Produksi : MD PICTURES
Durasi : 100 min

KALA mencoba menggambarkan sebuah negara (Indonesia?) dimana masyarakatnya digambarkan sedang mengalami gejolak dan kekerasan ada dimana-mana. Kekerasan yang kerap hadir ini menjadikan rakyat menjadi mati rasa. Tidak ada rasa peduli antara yang satu dengan yang lain. Sifat saling curiga tumbuh di hati mereka. Paralel dengan kondisi Indonesia paska reformasi kan?
Kesulitan hidup mendorong manusia untuk mencari pegangan yang lebih meyakinkan bagi hati dan pikiran mereka. Mereka lari kepada hal-hal supranatural untuk menjawab hal-hal yang membingungkan mereka yang sebenarnya bisa dijelaskan dengan sederhana. Mereka rindu akan hadirnya seseorang ( Ratu Adil? ) yang bisa membawa mereka keluar dari kesulitan hidup.
Hal inilah tampaknya yang ingin disampaikan oleh pembuat film. Mereka seakan-akan mentertawakan kondisi bangsa yang absurd. Ketika sejarah bangsa lain dipenuhi dengan hal-hal yang berbau ilmiah, bangsa kita selalu diributkan dengan hal-hal mistis. Kalau begini terus, kapan bangsa ini akan maju? Padahal dalam Deception Point - nya Dan Browng disebutkan negara yang kuat adalah negara yang menguasai teknologi ( baca: ilmu pengetahuan) .Pembuat film juga mencoba menyindir film-film horor kita dimana hantunya dengan kurang ajar muncul dimana-mana, entah siang ataupun malam, dan membunuh manusia. Padahal dari yang pernah aku baca kita tidak bisa bersentuhan dengan dunia lain. Berkomunikasi masih bisa. Masih ingat dengan Sixth Sense?
Banyak hal yang absurd dalam film ini. Hal ini tampaknya disengaja oleh pembuat film.
Secara keseluruhan film ini sangat enak dinikmati. Ketegangan terjaga dengan baik. Misteri yang melingkupi cerita dalam film ini dibuka pada saat yang tepat. Para pemainnya mayoritas bermain bagus, kecuali untuk Shanty yang menurutku kurang noir. Seneng melihat Frans Tumbuan terbelah jadi dua. Fachri Albar tampil dengan gestur yang meyakinkan mirip Mr. Bean ( meskipun aku kurang paham kaitan penyakit dia dengan tema film ).
Tapi mendekati akhir film ada hal yang mengganggu logikaku. Ketika terjadi pembantaian di dalam bis. Heran bagaimana si pembantai bisa masuk ke dalam bis, padahal sebelumnya dia berada di tempat lain yang menurutku tidak dekat dengan lokasi pembantaian. Untuk pembantaian yang lain masih bisa diterima akal. Kalau dia dibantu oleh yang "ngemong" dia atau punya kekuatan sakti, hal tersebut menjadikan film ini menjadi absurd yang tidak sengaja dan tidak konsisten dengan pendapatnya tentang hantu.
Terus si polisi yang digambarkan mempunyai hubungan sejenis. Adegan ini bisa dihilangkan. Padahal karakter polisi sudah terlihat kuat (jujur dan pembela kebenaran), tanpa digambarkan dia memiliki hubungan sejenis.
Tokoh Shanty juga bisa diganti dengan tokoh lain, karena terlihat kehadirannya hanya untuk menambah konflik semakin "panas".
Meskipun demikian, film ini memberikan sesuatu yang beda.Ada super heronya lho! Pemunculan setan cukup membuat kita teriak kaget.3/5

Nagabonar Jadi 2


Nagabonar Jadi 2 Cerdas Tapi... (Biasa ala Sinetron Edisi 17 Agustus) [by; hery subyanto] Sudah cukup lama aku tidak menemukan film yang bisa membuatku tertawa sekaligus menangis. Film model Forrest Gump ataupun Life is Beautiful. Akhirnya kerinduanku tuntas sudah setelah melihat Naga Bonar jadi dua. Hebatnya lagi film ini produksi dalam negeri. Jarang banget kan film Indonesia yang bisa berakibat seperti itu. Bahkan dalam adegan tertentu mampu membuatku merinding. Soal pesan, rasanya temen-temen yang lain sudah bisa menangkap apa yang coba disampaikan oleh Deddy Mizwar.

`Nagabonar Jadi 2` adalah sekuel dari film Nagabonar (1987)
Jenis Film : Drama/Komedi
Pemain : DEDDY MISWAR, TORA SUDIRO, WULAN GURITNO,
LUKMAN SARDI, ULI HERDIANSYAH
Sutradara : DEDDY MIZWAR
Penulis : MUSFAR YASIN
Produksi : PT GISELA CITRA SINEMA


Karena setiap adegan secara efektif menggambarkan hal-hal yang ingin disampaikan. Sebenarnya, film ini akan sangat tepat sekali bila dirilis menjelang 17 Agustus. Pasti akan lebih laris. Filmnya sendiri memang sudah laris ( terakhir baca di media cetak sudah ditonton lebih dari 400rb pasang mata ). Deddy Mizwar sangat mendominasi layar. Penampilan Wulan Guritno dan Lukman Sardi cukup mencuri perhatian. Kehadiran Jaja Miharja dan Indra Birowo semakin menyegarkan film ini. Acungan jempol buat si Toersi yang mengurusi musik. Musik yang dia garap dan dia pilih pas banget. Terutama untuk lagu Padamu Negeri dalam berbagai aransemen. TOP. Samuel Wattimena juga lumayan asyik menggarap properti dan kostumnya, meskipun untuk Tora kadang tertalu Metro seksual banget. Sebuah karya yang menampilkan kolaborasi yang kuat antara generasi tua dan generasi muda. Kalau temen-temen teliti (ato kurang kerjaan seperti diriku) ada blooper di awal film. Adegan di bandara. Pada awalnya si Jaki (Mike Muliardo) tidak memakai kaos dalem, tetapi ketika diluar bandara sedang berdebat dengan kuli dia sudah pakai kaos dalaem. Terus adegan Wulan Guritno naik tangga, kelihatan banget tiap ganti take dia tidak sempat cuci kaki. Hehehe.... Naga Bonar Jadi Dua menjadi salah satu film Indonesia terbaik yang pernah aku lihat.Adegan menggantung di patung bakal diingat terus ma penonton. Film ini mo dibikin versi sinetron lho. 4/5 .

Tambahan review Nagabonar Jadi 2
[by: wahyu nurdiyanto]
Film yang biasa, kaya sinetron edisi 17 Agustus.